Catatan Akhir Tahun 2012 : Berkarir di Dunia IT

Menarik untuk melihat mengenai perkembangan IT yang diajarkan di sekolah atau perguruan tinggi dibandingkan dengan penerapan IT oleh para praktisi di dunia nyata atau di pekerjaan.

Di satu sisi kelihatannya para pendidik mengajarkan IT sesuai kurikulum yang dibuat berdasarkan pada beberapa disiplin ilmu yang terkait dengan IT seperti misalnya elektro, matematika, fisika, manajemen dan sebagainya serta tentunya berdasarkan analisa dan penelitian secara terus menerus berdasarkan kebutuhan di dunia nyata, studi banding dengan lembaga pendidikan baik di dalam maupun di luar negeri.



Di sisi lain para praktisi IT menerapkan IT secara sistematis jika para praktisi tersebut sebelumnya pernah mengalami pendidikan IT secara formal dan memadai atau ada juga para praktisi IT tersebut yang menerapkan IT secara intuitif saja jika para praktisi tersebut kurang atau sama sekali tidak mengalami pendidikan IT secara formal.

Yang menarik, di dunia nyata atau di dunia kerja kadang-kadang keberhasilan seseorang dalam bekerja tidak selalu dipengaruhi oleh latar belakang pendidikannya tetapi lebih pada ketekunan dan kerja keras yang bersangkutan pada saat bekerja.

Kadang-kadang pada kenyataannya orang yang berlatar-belakang pendidikan lebih rendah memiliki semangat kerja dan ketekunan yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang berlatar-belakang pendidikannya lebih tinggi. Yang menarik dan mungkin lucu, kadang-kadang beberapa orang yang berlatar-belakang pendidikan lebih tinggi terlalu terlena dengan bayang-bayang latar belakang pendidikannya sehingga lupa untuk berkarir lebih berhasil di dunia pekerjaan.

Akibatnya orang yang berlatar-belakang pendidikan lebih rendah dapat berhasil dan dapat memegang kendali organisasi IT, sehingga boleh jadi arah penerapan IT dilakukan secara intuitif karena penentu atau pengendali organisasi IT tidak didukung oleh pendidikan IT yang memadai yang pada akhirnya menyebabkan penerapan IT pada organisasi bersangkutan berbeda dengan teori yang dipelajari di sekolah atau perguruan tinggi.

Kondisi tersebut boleh jadi disebabkan karena IT adalah merupakan disiplin ilmu baru dibandingkan disiplin ilmu lainnya yang sudah mapan seperti ekonomi, keuangan, matematika, fisika, kedokteran, arsitektur, sipil dan sebagainya, sehingga tingkat pendidikan atau pengetahuan para praktisi IT belum merata. Dengan berjalannya waktu diharapkan kondisi tersebut akan berjalan ke arah yang lebih baik atau ideal.

Karena IT masih merupakan disiplin ilmu yang belum mapan, maka seolah-olah pada penerapannya masih mencari jati diri atau bentuk, berbeda dengan disiplin ilmu lainnya yang sudah mapan.

Disamping kondisi seperti tersebut di atas, setelah bekerja kurang lebih 30 tahun di dunia IT, penulis juga dapat melihat dan merasakan ada beberapa perbedaan antara dunia IT dengan dunia atau displin lainnya misalnya dunia atau disiplin ilmu ekonomi, keuangan, akunting, teknik sipil, teknik arsitektur, kedokteran dan lainnya.

Pada dunia atau displin ilmu selain IT kecenderungannya adalah semakin senior seseorang maka akan semakin mumpuni atau profesional orang tersebut di bidangnya, artinya ilmu atau pengalaman yang didapat dapat diakumulasikan dari waktu ke waktu menjadi penyangga orang tersebut untuk bekerja secara lebih profesional.

Tetapi di dunia IT kelihatannya berbeda, ilmu atau pengalaman yang didapat seseorang selama menjalani karir di bidang IT belum tentu secara kumulatif dapat selalu menyangga profesionalisme orang tersebut di bidang IT, karena kecenderungannya di dunia IT dengan terus berubahnya teknologi yang ada sering membuat seseorang harus kembali ke titik awal atau titi nol lagi untuk dapat bekerja secara profesional sehingga ilmu yang didapat dan dikumpulkan selama berjalannya waktu kadang-kadang menjadi sia-sia karena tidak dapat secara kumulatif mendukung orang untuk lebih menguasai bidangnya.

Hal ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan dunia ekonomi, keuangan, akunting, kedokteran atau teknik sipil, semakin senior seseorang bekerja di bidang tersebut maka kecenderungannya semakin profesional orang tersebut bekerja.

Meskipun demikian, kondisi tersebut kemungkinan valid terutama untuk area IT yang sifatnya sangat teknis, atau saya sering mengatakannya sebagai “sektor real” di IT, tetapi mungkin untuk area-area yang mengarah ke manajerial di IT agak berbeda, ada kemungkinan yang besar pada area tersebut semakin senior seseorang maka akan semakin profesional atau mumpuni orang tersebut dalam bekerja, karena pada area tersebut ilmu yang didapat dari waktu ke waktu akan dapat secara kumulatif mendukung profesionalisme orang bersangkutan dalam bekerja.

Contoh area-area yang sifatnya manajerial di dunia IT adalah seperti IT risk management, information security, quality assurance, compliance, IT governance dan area-area management IT lainnya yang ada di dalam IT management framework seperti change management, problem management, operations management, performance management, capacity management dan sebagainya.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa bagi orang-orang IT selain dapat menguasai area-area teknis, sebaiknya sambil berjalan dan berkarir di IT juga mempelajari area-area manajerial yang disebutkan di atas untuk memastikan bahwa kumulasi kompetensi di bidang IT dapat selalu terjaga atau lebih ditingkatkan.